Antologi Puisi Pendhapa #26 - 13 Perempuan Menanak Sajak


DESKRIPSI

    Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Surakarta adalah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang menjadi unsur pelaksana tugas teknis operasional dan/atau kegiatan teknis penunjang tertentu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah di bidang pertunjukan dan pameran, serta pelestarian seni.

    Oleh sebab itu, TBJT memiliki peran fungsional yang berkaitan dengan pembinaan, perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan untuk segala bentuk produksi, dokumentasi-informasi, dan apresiasi seni, sehingga keberadaannya diharapkan mampu menjadi “ujung tombak” sekaligus “penjaga gawang” bagi pemajuan kebudayaan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

    Untuk memenuhi peran fungsionalnya tersebut, maka TBJT memosisikan diri sebagai stimulator, dinamisator, dan fasilitator untuk kehidupan berkesenian yang ada, tumbuh dan berkembang di Jawa Tengah, salah satunya melalui program kegiatan bertajuk Panggung Sastra Jawa Tengah yang secara rutin telah dilakukan sejak tahun 2005.

    Rangkaian kegiatan Panggung Sastra Jawa Tengah ini meliputi penerbitan buku antologi, pembacaan karya, dan diskusi sastra, baik berupa puisi (seri “Pendhapa”), prosa (cerpen, seri “Joglo”), serta esai sastra (seri “Wacana”). Dan kali ini, TBJT menyelenggarakan kegiatan Panggung Sastra Jawa Tengah seri “Pendhapa #26” dengan label 13 Perempuan Menanak Sajak. 

    Pelabelan 13 Perempuan Menanak Sajak dalam buku antologi puisi ini dipilih semata-mata untuk memberikan pemaknaan bahwa perkara kepenulisan puisi (sajak) tidaklah menjadi dominasi para penyair laki-laki, meskipun tak dapat dimungkiri keberadaan kaum laki-laki sebagai penyair jauh lebih banyak. Dalam konteks ini, eksistensi perempuan tidak lagi dipahami dalam peran domestik saja, melainkan juga kesejajarannya dalam berkiprah di dalam masyarakat dan kehidupan, antara lain, melalui dunia sastra.

    Harus diakui, bahwa keberadaan perempuan dalam dunia kesusasteraan Indonesia (modern) pun telah ada jauh sebelum era milenial sekarang ini, sekadar menyebut beberapa nama saja, misalnya, Selasih atau Seleguri, Maria Amin (periode sebelum kemerdekaan), Walujati, S. Rukiah (sekitar tahun 1950-an), N.H. Dini, Titie Said, Mira W, Marga T, La Rose, Diah Hadaning (tahun 1970-an), Dorothea Rosa Herliany, Abidah El Khalieqy, Oka Rusmini, Laksmi Pamuntjak, Ayu Utami, Dewi Lestari, Djenar mahesa Ayu (periode tahun 1980-an sampai dengan 1990-an). 

    Dalam dunia perpuisian sebagaimana tersaji di dalam buku antologi puisi ini, ketiga belas perempuan penyair yang terpilih dan terlibat (Brehita Wijaya, Evita Erasari, Himas Nur, Ika Permata Hati, Indri Yuswandari, Mutia Senja, Na Dhien Kristy, Nashita Zayn, Pipiek Isfianti, Retno Rengganis, Rizka Nur Laily Muallifa, Seruni Unie, Thea Arnaiz Le) mencoba menunjukkan eksistensi mereka. Ada 78 karya puisi yang layak untuk diapresiasi. Kita bisa menyimak beragam tema, pesan dan gaya penulisan yang berusaha mereka tawarkan.

    Setidaknya kita bisa menikmati buah pikiran dan perasaan ketiga belas perempuan penyair tersebut dalam kristalisasi kontemplatif dan sublim dengan nuansa yang beragam. Barangkali bagi mereka, puisi atau sajak ibarat nasi, kata-kata adalah beras, dan kemampuan kreatif, serta estetik literer sebagai bumbu penyedapnya. Mereka “menanak” (bahasa Jawa), memasaknya untuk menjadi sajian yang unik dan original. Karenanya, imaji dan diksi “menanak sajak” mengandung maksud bahwa yang diolah dan disajikan oleh para perempuan penyair ini dapat memberikan nutrisi yang bergizi dalam kehidupan yang sesungguhnya.

    Tentu saja pelaksanaan Panggung Sastra Jawa Tengah seri Pendhapa #26 berlabel 13 Perempuan Menanak Sajak ini tidak mungkin dapat terrealisasi tanpa bantuan berbagai pihak. Oleh sebab itu, sudah selayaknyalah kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada para penyair yang terlibat, pun kepada Dewi Candraningrum (aktivis lingkungan dan feminisme, pernah menjadi Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan, serta pengelola komunitas Jejer Wadon) dan Setyaningsih (esais) yang telah berkenan memberikan catatan spesialnya.

    Harapan kami, semoga diksi angka “13” yang menjadi bagian dari judul buku antologi puisi ini bukanlah sebuah angka sial dan menakutkan sebagaimana yang selama ini kita pahami, melainkan menjadi angka sakral dan monumental yang menandai jejak kreatif literer atas eksistesi ketiga belas perempuan penyair beserta karya-karya mereka.

    Akhir kata, semoga buku ini dapat menjadi bagian dari sejarah pertumbuhkembangan, sekaligus memperkaya khazanah dunia pustaka sastra Indonesia kontemporer, serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, khususnya kepada para masyarakat pembaca sastra.

 


Salam,

TAMAN BUDAYA JAWA TENGAH

Wijang J. Riyanto

 

 


DETAIL
Penulis
Penerbit
ISBN
Kategori Buku Sastra
Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman 0
Download [Download File]

PEMERINTAH PROVINISI JAWA TENGAH DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAMAN BUDAYA JAWA TENGAH


Jalan Ir. Sutami Nomor 57 Jebres
Surakarta, Jawa Tengah
Telepon 0271-635414
Email tbjt@disdikbud.jatengprov.go.id

TWITTER TAMAN BUDAYA JAWA TENGAH